Tampilkan postingan dengan label Agama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Agama. Tampilkan semua postingan

Jumat, 02 Mei 2014

Ilham Baik dan Jahat

Hidup adalah pilihan. Itulah yang sering kali kita dengar saat kita menghadiri training motivasi atau sebagainya, atau juga saat kita membaca sebuah buku yang bertemakan tentang kesuksesan. Pada kenyataannya memang begitu. Jika kita mencoba untuk berpikir hidup memang pilihan. Semuanya pilihan kita sendiri.

Semuanya berawal dari sebuah keinginan atau kata hati. Hati menginginkan sesuatu. Hati mengatakan sesuatu. Keinginan dan kata hati ini selanjutnya kita pilih untuk dijadikan sebuah keinginan. Inilah awal kita memilih. Baru setelah itu kita memutuskan untuk memilih mewujudkannya.

Hidup ini berawal dari hati. Di mana hati menerima atau mengeluarkan sebuah gerakan baik itu keinginan atau harapan. Sebelum melakukan sesuatu apa pun pasti semuanya sudah terbesit dalam hatinya.

Dalam hal baik dan buruk pun semuanya itu berasal dari hati. Saya lebih enak menyebuttnya ilham baik dan buruk. Kenapa saya menyebutnya begitu? Karena ketika seseorang ingin melakukan suatu perbuatan tentunya telah ada yang mengatakan bahwa perbuatan itu benar atau salah untuk dilakukan. Itu adalah ilham dari Tuhan. Ini selaras dengan firman Allah dalam Alquran Surat Asy Syams ayat 8 :

فألهمها فجورها وتقوىها
" maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan)kefasikan dan ketakwaannya" (QS Asy Syams : 8)

Nah, apa hubungannya antara semua berasal dari ilham hati dan hidup itu pilihan? Ilham baik dan buruk ini akan selalu ada ketika manusia hendak melakukan atau menginginkan sesuatu. Sehingga sebenarnya dia sudah tahu apa yang dia lakukan itu baik atau buruk tapi karena memang sudah tertutupi oleh keinginannya atau hasratnya maka dia tetap melakukannya walau itu buruk atau tidak melakukannya walau itu baik. Itu merupakan pilihan. Jadi sebenarnya itu pilihan mau atau tidak?

Contoh: Kita hidup dalam satu kos bersama seorang teman. Kemudian pada suatu hari, ketika teman kita sedang tidak ada di kos ada keinginan untuk mencuri uangnya. Nah saat kita ingin mencuri inilah akan ada ilham baik dan buruk terbesit dalam hati bahwa itu buruk tidak boleh dilakukan tapi kadang terbesit bahwa kita sedang butuh uang untuk suatu keperluan. Dari contoh ini pasti kita pernah merasakannya walaupun bukan ingin mencuri uang. Bagaimana selanjutnya mencuri uang atau tidak itu adalah pilihan kita.


Begitulah Allah mengilhamkan mana yang baik dan mana yang buruk berdasarkan rasa kemanusian dalam diri manusia dan berdasarkan pengetahuan manusia itu sendiri.

Minggu, 29 September 2013

Mengamalkan Ilmu

Masalah keilmuan sudah sering kali dibicarakan jauh sebelum abad 21 ini berlangsung. Mulai abad sebelum-sebelumnya telah banyak manusia yang bergerak dalam bidang ini. Berbagai ilmu telah berkembang dari satu ilmu yang global menjadi ilmu-ilmu yang lebih khusus. Pembahasannya pun semakin rinci dari zaman ke zaman. Seiring bermunculannya ilmu-ilmu tersebut sering kali diiringi munculnya para ahli dalam bidang ilmu tersebut. Ilmu atau ilmu pengetahuan akan tetap dan terus berkembang selaras dengan berkembangnya masalah yang dihadapi manusia.

Dalam islam, ilmu yang paling diwajibkan dan ditekankan untuk dipelajari adalah ilmu syariat. Ilmu syariat sangat ditekankan karena ilmu tersebut digunakan untuk beribadah dan berhubungan dengan Tuhan seperti fikih, aqidah, akhlak, ilmu Al-Quran, dan lain-lain. Kenapa dalam islam ilmu yang berhubungan dengan ibadah atau Tuhan itu dianjurkan??? Alasannya adalah karena tujuan manusia penciptaan manusia itu adalah untuk beribadah kepada Tuhan.

Islam juga menganjurkan untuk mempelajari segala ilmu yang baik selain ilmu syariat seperti pertanian, perdagangan, ekonomi, sains, dan lain-lain. Bahkan islam tidak hanya menganjurkan tapi mewajibkan untuk mempelajarinya, tetapi dengan wajib kifayah. Artinya jika ada satu orang saja (dalam daerah dan waktu) yang sudah mempelari maka yang lain tidak mempunyai kewajiban untuk mempejarinya. Karena ilmu-ilmu seperti ini biasanya berlaku untuk masyarakat sehingga ditinjau dari aspek ini jadi jika beberapa orang telah mengetahuinya maka dianggap cukup. Sedangkan ilmu syariat biasanya adalah ilmu ilmu yang biasa digunakan oleh perorangan jadi hukumnya wajib bagi perorangan.

Dari semua ilmu yang ada baik itu ilmu syariat atau itu selain ilmu syariat itu tidak akan berguna jika hanya kita pelajari. Ilmu itu harus kita amalkan. Jika kita tidak mengamalaknnya maka ilmu itu hanya sekedar menjadi pengisi otak atau lebih tepatnya disebut pengetahuan. Karena yang disebut ilmu itu adalah pengetahuan yang diamalkan.

Saya ingin memberikan contohnya seseorang yang belajar shalat. Dia sudah mempelajari bahwa shalat itu terdiri dari membaca fatihah, ruku', sujud, tahiyat dan lainnya. Tapi dia tidak pernah mencoba untuk melakukannya apakah dia sudah benar benar tahu tentang shalat. Satu contoh lagi, seorang anak yang mempelajari cara agar bisa naik sepeda ontel, dia bisa menyebutkan caranya, bahwa kalau naik sepeda ontel itu pertama harus begini, kedua harus begitu dan sebagainya, tapi dia tidak pernah mempraktekkannya. Jadi tak ada guna pintar dalam hal apa pun jika tidak bisa mengamalkannya. Pengamalan ini akan menjadi sangat penting dalam islam. Karena hampir setiap ilmu syariat itu haruslah di amalkan.


Ilmu yang diamalkan biasanya akan sangat mudah untuk teringat dalam benak kita. Karena ilmu yang kita amalkan tersebut bukan lagi menjadi pengetahuan bagi kita tapi bisa menjadi karakter yang melekat bagi kita.

Kamis, 19 September 2013

KEKUATAN SABAR

Sewaktu saya sedang membaca Alquran pada suatu hari tiba-tiba saya menemukan beberapa ayat yang membuat saya tertarik untuk mempelajarinya. Ayat tersebut menerangkan tentang keutamaan kesabaran orang beriman dalam perang. Tapi walaupun begitu, dalam pikiran saya Alquran tidak diturunkan hanya untuk satu masa saja. Tentutnya ayat tersebut masih berlaku sampai sekarang dan juga untuk kita walaupun sekarang kita semua tidak dalam keadaan berperang. Begitulah Alquran mempunyai makna yang sangat global. Terlintas dalam pikiran saya bahwa perang itu terkonotasi pada berusaha dan bertahan dalam derita. Sehingga saya memaknainya sebagai sabar dalam berusaha dan menghadapi penderitaan.

Ayat-ayat tersebut adalah dua ayat dari Surat Al Anfal ayat 65-66 yang artinya sebagai berikut :
"Hai Nabi, kobarkanlah semangat para mukmin itu untuk berperang. Jika ada dua puluh orang yang sabar di antara kamu, niscaya mereka dapat mengalahkan dua ratus orang musuh. Dan jika ada seratus orang (yang sabar) di antaramu, mereka dapat mengalahkan seribu daripada orang-orang kafir, disebabkan orang-orang kafir itu kaum yang tidak mengerti (65). Sekarang Allah telah meringankan kepadamu dan Dia telah mengetahui bahwa padamu ada kelemahan. Maka jika ada di antaramu seratus orang yang sabar, niscaya mereka dapat mengalahkan dua ratus orang; dan jika di antaramu ada seribu orang (yang sabar), niscaya mereka dapat mengalahkan dua ribu orang dengan seizin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar (66). (QS. Al Anfal :65-66).

Dari ayat pertama, saya mengambil sebuah konotasi sebagai berikut : orang yang sabar adalah kita dan orang-orang kafir adalah persoalan/penderitaan yang kita hadapi. Jadi jika kita rinci dari ayat ini 20 : 200 dan 100 : 1000 maka kita perbandingannya adalah 1 : 10. Artinya jika yang tidak sabar hanya bisa menghadapi masalah sabanyak 1 saja maka orang yang sabar akan mampu menghadapi masalah sebanyak 10. Itulah kekuatan sabar.

Pada ayat kedua, Allah membandingkan 100 : 200 dan 1000 : 2000 artinya jika diperkecil lagi maka perbandingannya adalah 1 : 2. Satu orang yang tidak sabar hanya bisa menghadapi satu masalah dan satu orang yang sabar bisa menghadapi dua masalah. Hal ini berbeda dari ayat di atas. Pada ayat ini ada kata-kata "Dia mengetahui bahwa padamu ada kelemahan". Sehingga dapat disimpulkan bahwa jika orang yang kuat dan sabar maka perbandingan dengan orang yang tidak sabar 1 : 10, sedangkan orang yang lemah dan sabar maka perbandingannya adalah 1 : 2. Begitu hebatnya kekuatan yang dimiliki oleh orang yang bersabar.


Hal-hal seperti di atas dapat benar-benar terjadi jika kita bisa bersabar dengan benar. Selain itu, semua itu bisa terjadi karena satu hal yaitu karena Allah bersama mereka (orang-orang yang sabar) dan mereka merasa bahwa Allah bersama mereka dan mereka yakin bahwa Allah bersama mereka. Mereka yakin Allah bisa meringankan beban mereka seberat apapun. Inilah kuncinya.

Jumat, 28 Juni 2013

Muslim Imannya Kuat adalah Muslim Yang Pemberani

Berani merupakan sikap/perasaan yang mulia dan agung. Karena berani akan membuat orang yang memiliki sikap/perasaan berani ini semakin percaya diri, lebih kuat, dan lebih semangat. Lah...kemudian kenapa muslim yang kuat imannya dikatakan sebagai muslim yang pemberani? Adakah hubungan antara iman dan berani? Jawabannya adalah jelas ada.

Seseorang yang imannya kuat dia akan yakin bahwa Allah akan selalu berada di dekatnya, menjaganya dari segala macam bahaya. Seseoang yang imannya kuat akan selalu pasrah kepada Allah. Karena itu seorang tentunya saat seseorang telah mencapai iman yang benar-benar kokok maka tidak akan ada rasa takut dihatinya kecuali rasa takut kepada Allah.

Dalam agama islam hal tersebut telah dijelaskan dalam Surat Yunus ayat 62 Allah berfirman: 
"Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa (QS Yunus : 62-63)."
Pada ayat 62 Allah menjelaskan bahwa wali-wali Allah itu tidak merasa takut atau khawatir akan apa yang mereka hadapi di dunia dan mereka tidak bersedih hati dengan apa yang telah terjadi, sedangkan pada ayat selanjutnya Allah mengabarkan kepada kita bahwa wali-wali Allah itu adalah orang yang beriman (kuat) dan mereka selalu bertakwa.

Orang yang takut pastilah mereka kurang percaya akan Allah, mereka kurang percaya (iman) bahwa Allah akan selalu berada di dekatnya dan bahkan lebih dekat dari urat lehernya. Mereka kurang yakin bahwasanya Allah itu Maha Melindungi hamba-Nya. Dia kurang percaya bahwa Allah itu Maha Kuasa atas segala sesuatu sehingga membuatnya merasa takut. Jika mereka benar-benar yakin dan percaya bahwa Allah Maha Melindungi dan Maha Kuasa atas segala sesuatu maka dia akan tenang dan tidak pernah takut menghadapi apa pun karena mereka begitu yakin bahwa Allah selalu berada di dekatnya.

Begitulah. Semakin kuat iman seseorang semakin besar pula keberaniannya.

Sabtu, 15 September 2012

Nikmat Yang Tak Terhitung

Pernah aku mencoba menghitung apa yang aku dapat dalam hidup ini dari Allah Yang Maha Kuasa. Aku mulai menghitung dari setiap keberhasilan yang kucapai. Aku masih dapat menghitungnya. Kemudian aku mulai menghitung lagi dengan cara menghitung lepas aku dari penderitaan, bahaya dan sesuatu yang tidak aku suka. Aku masih dapat menghitungnya walaupun jumlahlah kurasa sudah banyak sekali. Tetapi tiba-tiba aku teringat semua nikmat-nikmat kecil yang telah diberikan Allah kepadaku. Ternyata jika aku berpikir lagi secara mendalam. Aku menemukan jutaan nikmat yang telah diberikan-Nya kepadaku bukan jutaan bahkan tak terhitung.

Setiap hela nafas kita adalah karena rahmat-Nya. Rahmat-Nya ini adalah sebuah nikmat bagi kita. Bayangkan berapa kali kita menghela nafas dalam satu menitnya? Menurut sebuah penelitian bahwa kita bernafas ± 16 kali dalam satu menitnya. Lalu dapatkah kita menghitung berapa kali kita menghela nafas dalam satu hari, dalam satu bulan, dan seumur hidup kita. Contoh lainnya adalah penciptaan kita yang sesempurna ini adalah seluruhnya nikmat dari Allah. Bagaimana tubuh kita bisa mencerna makanan tanpa dengan kita suruh dan tanpa berhenti sedikitpun. Bagaimana jantung kita berdetak setiap harinya bahkan setiap detiknya. Belum lagi dengan nikmat mata, dengannya kita bisa melihat dan menyaksikan sebuah pemandangan yang indah dan pemandangan yang kita sukai. Mata adalah penuntun arahbyang paling baik dari pada indra yang lainnya. Kemudian ada nikmat akal. Dengan akal kita bisa menciptakan berbagai hal, mengatasi masalah yang ada dalam kehidupan ini. Dan banyak lagi dari setiap indra kita yang merupakan nikmat dari-Nya. Jika kita merincinya satu persatu niscaya kita tidak akan dapat menghitungnya.

Sebagaimana yang telah difirmankan oleh Allah dalam surat An Nahl ayat 18 yang artinya sebagai berikut:
"Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang".
Ayat di atas menjelaskan dengan jelas bahwa kita tidak akan bisa menghitung nikmat yang kita dapat dari Allah SWT. Kita memang tidak dapat menghitung nikmat yang kita dapat oleh karena itu yang kita bisa lakukan adalah mensyukurinya. Bahkan jika kita bersyukur atas segala nikmat yang kita dapat maka nikmat itu akan ditambahkan unutk kita. Hal itu termaktub dalam kitab suci Alquran surah Ibrahim ayat 7 yang artinya sebagai berikut :
"Dan (ingatlah) tatkala Tuhanmu memaklumkan; 'Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azabku sangat pedih".

Sabtu, 19 Mei 2012

Allah Maha Melihat

Allah adalah Tuahn Semesta alam yang memiliki kesempuranaan dalam kekuasaan dan dalam sifat-sifatnya. Sifat-sifat tersebut sangatlah menunjukkan keagungan dan kemahasempurnaannya. Salah satu dari difat-sifatnya tersebut adalah Maha Melihat. Penglihatan Allah tidaklah sama dengan makhluknya, tidak dengan mata seperti apa ada pada makluk-makhluk-Nya. Dan kita tidak bisa membayangkan dan tidak diperkenankan untuk membayangkan bagaimana cara Allah melihat.

Dengan kesempunaan sifatnya dan kemahamelihatan Allah, Dia bisa melihat segala sesuatu yang berada di alam semesta ini, di laut, di darat, di langit, yang tampak maupun yang tersembunyi. Itulah kemahakuasaan Allah. Penglihatan-Nya mencakup segala sesuatu. Dalam kitab-Nya Allah berfirman:
قل كفى بالله شهيدا بيني و بينكم إنه كان بعيباده خبيرا بصيرا (الإسراء : 96)
Katakanlah "Cukuplah Allah menjadi saksi antara aku dan kamu sekalian. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mengetahui Lagi Maha Melihat atas hamba-hamban-Nya". (Al-Isro' : 96)

Sebagai seoarang muslim yang beriman kepada Allah beserta sifat-sifat-Nya dan kemahasempurnaan-Nya, tentu akan percaya bahwa Allah Maha Melihat ia akan sangat berhati-hati dalam hidupnya dan selalu melaksanakan apa yang diperintahkan-Nya dan akan menjauhi segala apa yang dilarang-Nya. Karena ia selalu tahu dan yakin bahwa Allah selalu melihatnya kapanpun dan dimanapun ia berada. Ia merasa malu jika Allah Melihat-Nya melakukan perbuatan maksiat dan dia akan malu pula jika Allah melihatnya melalaikan kewajibannya sebagai seorang muslim. Itulah salah satu ciri muslim yang sejati.

Hal tersebut bisa kita perumpamakan sebagai berikut. Seorang laki-laki sedang bersama pacarnya. Mereka berdua sedang berjalan-jalan di sebuah mall untuk sekedar berbelanja. Tentu saat ia berada di dekat pacarnya ia tidak akan berani melakukan apa yang bisa menyakiti hati pacarnya misalnya bemesraan dengan gadis lain, walaupun tidak berada di dekatnya namun masih bisa dilihat oleh pacarnya maka ia akan merasa takut untuk berbuat sedemikian. Begitu pula seorang muslim yang yakin bahwa Allah Maha Melihat maka ia akan selalu menjaa segala gerak-geriknya karena ia tahu Allah selalu melihatnya.

Jumat, 18 Mei 2012

Hakikat Sabar


Sabar adalah pilar kebahagiaan seorang hamba. Dengan kesabaran itulah seorang hamba akan terjaga dari kemaksiatan, konsisten menjalankan ketaatan, dan tabah dalam menghadapi berbagai macam cobaan. Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Kedudukan sabar dalam iman laksana kepala bagi seluruh tubuh. Apabila kepala sudah terpotong maka tidak ada lagi kehidupan di dalam tubuh.” (Al Fawa’id, hal. 95)
Pengertian Sabar
Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Sabar adalah meneguhkan diri dalam menjalankan ketaatan kepada Allah, menahannya dari perbuatan maksiat kepada Allah, serta menjaganya dari perasaan dan sikap marah dalam menghadapi takdir Allah….” (Syarh Tsalatsatul Ushul, hal. 24)
Macam-Macam Sabar
Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Sabar itu terbagi menjadi tiga macam:
  1. Bersabar dalam menjalankan ketaatan kepada Allah
  2. Bersabar untuk tidak melakukan hal-hal yang diharamkan Allah
  3. Bersabar dalam menghadapi takdir-takdir Allah yang dialaminya, berupa berbagai hal yang menyakitkan dan gangguan yang timbul di luar kekuasaan manusia ataupun yang berasal dari orang lain (Syarh Tsalatsatul Ushul, hal. 24)
Sebab Meraih Kemuliaan
Di dalam Taisir Lathifil Mannaan Syaikh As Sa’di rahimahullah menyebutkan sebab-sebab untuk menggapai berbagai cita-cita yang tinggi. Beliau menyebutkan bahwa sebab terbesar untuk bisa meraih itu semua adalah iman dan amal shalih.
Di samping itu, ada sebab-sebab lain yang merupakan bagian dari kedua perkara ini. Di antaranya adalah kesabaran. Sabar adalah sebab untuk bisa mendapatkan berbagai kebaikan dan menolak berbagai keburukan. Hal ini sebagaimana diisyaratkan oleh firman Allah ta’ala, “Dan mintalah pertolongan dengan sabar dan shalat.” (QS. Al Baqarah [2]: 45).
Yaitu mintalah pertolongan kepada Allah dengan bekal sabar dan shalat dalam menangani semua urusan kalian. Begitu pula sabar menjadi sebab hamba bisa meraih kenikmatan abadi yaitu surga. Allah ta’ala berfirman kepada penduduk surga, “Keselamatan atas kalian berkat kesabaran kalian.” (QS. Ar Ra’d [13] : 24).
Allah juga berfirman, “Mereka itulah orang-orang yang dibalas dengan kedudukan-kedudukan tinggi (di surga) dengan sebab kesabaran mereka.” (QS. Al Furqaan [25] : 75).
Selain itu Allah pun menjadikan sabar dan yakin sebagai sebab untuk mencapai kedudukan tertinggi yaitu kepemimpinan dalam hal agama. Dalilnya adalah firman Allah ta’ala, “Dan Kami menjadikan di antara mereka (Bani Isra’il) para pemimpin yang memberikan petunjuk dengan titah Kami, karena mereka mau bersabar dan meyakini ayat-ayat Kami.” (QS. As Sajdah [32]: 24) (Lihat Taisir Lathifil Mannaan, hal. 375)
Sabar Dalam Ketaatan
Sabar Dalam Menuntut Ilmu
Syaikh Nu’man mengatakan, “Betapa banyak gangguan yang harus dihadapi oleh seseorang yang berusaha menuntut ilmu. Maka dia harus bersabar untuk menahan rasa lapar, kekurangan harta, jauh dari keluarga dan tanah airnya. Sehingga dia harus bersabar dalam upaya menimba ilmu dengan cara menghadiri pengajian-pengajian, mencatat dan memperhatikan penjelasan serta mengulang-ulang pelajaran dan lain sebagainya.
Semoga Allah merahmati Yahya bin Abi Katsir yang pernah mengatakan, “Ilmu itu tidak akan didapatkan dengan banyak mengistirahatkan badan”, sebagaimana tercantum dalam shahih Imam Muslim. Terkadang seseorang harus menerima gangguan dari orang-orang yang terdekat darinya, apalagi orang lain yang hubungannya jauh darinya, hanya karena kegiatannya menuntut ilmu. Tidak ada yang bisa bertahan kecuali orang-orang yang mendapatkan anugerah ketegaran dari Allah.” (Taisirul wushul, hal. 12-13)
Sabar Dalam Mengamalkan Ilmu
Syaikh Nu’man mengatakan, “Dan orang yang ingin beramal dengan ilmunya juga harus bersabar dalam menghadapi gangguan yang ada di hadapannya. Apabila dia melaksanakan ibadah kepada Allah menuruti syari’at yang diajarkan Rasulullah niscaya akan ada ahlul bida’ wal ahwaa’ yang menghalangi di hadapannya, demikian pula orang-orang bodoh yang tidak kenal agama kecuali ajaran warisan nenek moyang mereka.
Sehingga gangguan berupa ucapan harus diterimanya, dan terkadang berbentuk gangguan fisik, bahkan terkadang dengan kedua-keduanya. Dan kita sekarang ini berada di zaman di mana orang yang berpegang teguh dengan agamanya seperti orang yang sedang menggenggam bara api, maka cukuplah Allah sebagai penolong bagi kita, Dialah sebaik-baik penolong” (Taisirul wushul, hal. 13)
Sabar Dalam Berdakwah
Syaikh Nu’man mengatakan, “Begitu pula orang yang berdakwah mengajak kepada agama Allah harus bersabar menghadapi gangguan yang timbul karena sebab dakwahnya, karena di saat itu dia tengah menempati posisi sebagaimana para Rasul. Waraqah bin Naufal mengatakan kepada Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Tidaklah ada seorang pun yang datang dengan membawa ajaran sebagaimana yang kamu bawa melainkan pasti akan disakiti orang.”
Sehingga jika dia mengajak kepada tauhid didapatinya para da’i pengajak kesyirikan tegak di hadapannya, begitu pula para pengikut dan orang-orang yang mengenyangkan perut mereka dengan cara itu. Sedangkan apabila dia mengajak kepada ajaran As Sunnah maka akan ditemuinya para pembela bid’ah dan hawa nafsu. Begitu pula jika dia memerangi kemaksiatan dan berbagai kemungkaran niscaya akan ditemuinya para pemuja syahwat, kefasikan dan dosa besar serta orang-orang yang turut bergabung dengan kelompok mereka.
Mereka semua akan berusaha menghalang-halangi dakwahnya karena dia telah menghalangi mereka dari kesyirikan, bid’ah dan kemaksiatan yang selama ini mereka tekuni.” (Taisirul wushul, hal. 13-14)
Sabar dan Kemenangan
Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Allah ta’ala berfirman kepada Nabi-Nya, “Dan sungguh telah didustakan para Rasul sebelummu, maka mereka pun bersabar menghadapi pendustaan terhadap mereka dan mereka juga disakiti sampai tibalah pertolongan Kami.” (QS. Al An’aam [6]: 34).
Semakin besar gangguan yang diterima niscaya semakin dekat pula datangnya kemenangan. Dan bukanlah pertolongan/kemenangan itu terbatas hanya pada saat seseorang (da’i) masih hidup saja sehingga dia bisa menyaksikan buah dakwahnya terwujud. Akan tetapi yang dimaksud pertolongan itu terkadang muncul di saat sesudah kematiannya. Yaitu ketika Allah menundukkan hati-hati umat manusia sehingga menerima dakwahnya serta berpegang teguh dengannya. Sesungguhnya hal itu termasuk pertolongan yang didapatkan oleh da’i ini meskipun dia sudah mati.
Maka wajib bagi para da’i untuk bersabar dalam melancarkan dakwahnya dan tetap konsisten dalam menjalankannya. Hendaknya dia bersabar dalam menjalani agama Allah yang sedang didakwahkannya dan juga hendaknya dia bersabar dalam menghadapi rintangan dan gangguan yang menghalangi dakwahnya. Lihatlah para Rasul shalawatullaahi wa salaamuhu ‘alaihim. Mereka juga disakiti dengan ucapan dan perbuatan sekaligus.
Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Demikianlah, tidaklah ada seorang Rasul pun yang datang sebelum mereka melainkan mereka (kaumnya) mengatakan, ‘Dia adalah tukang sihir atau orang gila’.” (QS. Adz Dzariyaat [51]: 52). Begitu juga Allah ‘azza wa jalla berfirman, “Dan demikianlah Kami menjadikan bagi setiap Nabi ada musuh yang berasal dari kalangan orang-orang pendosa.” (QS. Al Furqaan [25]: 31). Namun, hendaknya para da’i tabah dan bersabar dalam menghadapi itu semua…” (Syarh Tsalatsatul Ushul, hal. 24)
Sabar di atas Islam
Ingatlah bagaimana kisah Bilal bin Rabah radhiyallahu ‘anhu yang tetap berpegang teguh dengan Islam meskipun harus merasakan siksaan ditindih batu besar oleh majikannya di atas padang pasir yang panas (Lihat Tegar di Jalan Kebenaran, hal. 122). Ingatlah bagaimana siksaan tidak berperikemanusiaan yang dialami oleh Ammar bin Yasir dan keluarganya. Ibunya Sumayyah disiksa dengan cara yang sangat keji sehingga mati sebagai muslimah pertama yang syahid di jalan Allah. (Lihat Tegar di Jalan Kebenaran, hal. 122-123)
Lihatlah keteguhan Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu yang dipaksa oleh ibunya untuk meninggalkan Islam sampai-sampai ibunya bersumpah mogok makan dan minum bahkan tidak mau mengajaknya bicara sampai mati. Namun dengan tegas Sa’ad bin Abi Waqqash mengatakan, “Wahai Ibu, demi Allah, andaikata ibu memiliki seratus nyawa kemudian satu persatu keluar, sedetikpun ananda tidak akan meninggalkan agama ini…” (Lihat Tegar di Jalan Kebenaran, hal. 133) Inilah akidah, inilah kekuatan iman, yang sanggup bertahan dan kokoh menjulang walaupun diterpa oleh berbagai badai dan topan kehidupan.
Saudaraku, ketahuilah sesungguhnya cobaan yang menimpa kita pada hari ini, baik yang berupa kehilangan harta, kehilangan jiwa dari saudara yang tercinta, kehilangan tempat tinggal atau kekurangan bahan makanan, itu semua jauh lebih ringan daripada cobaan yang dialami oleh salafush shalih dan para ulama pembela dakwah tauhid di masa silam.
Mereka disakiti, diperangi, didustakan, dituduh yang bukan-bukan, bahkan ada juga yang dikucilkan. Ada yang tertimpa kemiskinan harta, bahkan ada juga yang sampai meninggal di dalam penjara, namun sama sekali itu semua tidaklah menggoyahkan pilar keimanan mereka.
Ingatlah firman Allah ta’ala yang artinya, “Dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan sebagai seorang muslim.” (QS. Ali ‘Imran [3] : 102).
Ingatlah juga janji Allah yang artinya, “Barang siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya akan Allah berikan jalan keluar dan Allah akan berikan rezeki kepadanya dari jalan yang tidak disangka-sangka.” (QS. Ath Thalaq [65] : 2-3).
Disebutkan dalam sebuah riwayat bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ketahuilah, sesungguhnya datangnya kemenangan itu bersama dengan kesabaran. Bersama kesempitan pasti akan ada jalan keluar. Bersama kesusahan pasti akan ada kemudahan.” (HR. Abdu bin Humaid di dalam Musnadnya [636] (Lihat Durrah Salafiyah, hal. 148) dan Al Haakim dalam Mustadrak ‘ala Shahihain, III/624). (Syarh Arba’in Ibnu ‘Utsaimin, hal. 200)
Sabar Menjauhi Maksiat
Syaikh Zaid bin Muhammad bin Hadi Al Madkhali mengatakan, “Bersabar menahan diri dari kemaksiatan kepada Allah, sehingga dia berusaha menjauhi kemaksiatan, karena bahaya dunia, alam kubur dan akhirat siap menimpanya apabila dia melakukannya. Dan tidaklah umat-umat terdahulu binasa kecuali karena disebabkan kemaksiatan mereka, sebagaimana hal itu dikabarkan oleh Allah ‘azza wa jalla di dalam muhkam al-Qur’an.
Di antara mereka ada yang ditenggelamkan oleh Allah ke dalam lautan, ada pula yang binasa karena disambar petir, ada pula yang dimusnahkan dengan suara yang mengguntur, dan ada juga di antara mereka yang dibenamkan oleh Allah ke dalam perut bumi, dan ada juga di antara mereka yang di rubah bentuk fisiknya (dikutuk).”
Pentahqiq kitab tersebut memberikan catatan, “Syaikh memberikan isyarat terhadap sebuah ayat, “Maka masing-masing (mereka itu) kami siksa disebabkan dosanya, Maka di antara mereka ada yang kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil dan di antara mereka ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur, dan di antara mereka ada yang kami benamkan ke dalam bumi, dan di antara mereka ada yang kami tenggelamkan, dan Allah sekali-kali tidak hendak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.” (QS. Al ‘Ankabuut [29] : 40).
“Bukankah itu semua terjadi hanya karena satu sebab saja yaitu maksiat kepada Allah tabaaraka wa ta’ala. Karena hak Allah adalah untuk ditaati tidak boleh didurhakai, maka kemaksiatan kepada Allah merupakan kejahatan yang sangat mungkar yang akan menimbulkan kemurkaan, kemarahan serta mengakibatkan turunnya siksa-Nya yang sangat pedih. Jadi, salah satu macam kesabaran adalah bersabar untuk menahan diri dari perbuatan maksiat kepada Allah. Janganlah mendekatinya.
Dan apabila seseorang sudah terlanjur terjatuh di dalamnya hendaklah dia segera bertaubat kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya, meminta ampunan dan menyesalinya di hadapan Allah. Dan hendaknya dia mengikuti kejelekan-kejelekannya dengan berbuat kebaikan-kebaikan. Sebagaimana difirmankan Allah ‘azza wa jalla, “Sesungguhnya kebaikan-kebaikan akan menghapuskan kejelekan-kejelekan.” (QS. Huud [11] : 114). Dan juga sebagaimana disabdakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Dan ikutilah kejelekan dengan kebaikan, niscaya kebaikan itu akan menghapuskannya.” (HR. Ahmad, dll, dihasankan Al Albani dalam Misykatul Mashaabih 5043)…” (Thariqul wushul, hal. 15-17)
Sabar Menerima Takdir
Syaikh Zaid bin Muhammad bin Hadi Al Madkhali mengatakan, “Macam ketiga dari macam-macam kesabaran adalah Bersabar dalam menghadapi takdir dan keputusan Allah serta hukum-Nya yang terjadi pada hamba-hamba-Nya. Karena tidak ada satu gerakan pun di alam raya ini, begitu pula tidak ada suatu kejadian atau urusan melainkan Allah lah yang mentakdirkannya. Maka bersabar itu harus. Bersabar menghadapi berbagai musibah yang menimpa diri, baik yang terkait dengan nyawa, anak, harta dan lain sebagainya yang merupakan takdir yang berjalan menurut ketentuan Allah di alam semesta…” (Thariqul wushul, hal. 15-17)
Sabar dan Tauhid
Syaikh Al Imam Al Mujaddid Al Mushlih Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullahu ta’ala membuat sebuah bab di dalam Kitab Tauhid beliau yang berjudul, “Bab Minal iman billah, ash-shabru ‘ala aqdarillah” (Bab Bersabar dalam menghadapi takdir Allah termasuk cabang keimanan kepada Allah)
Syaikh Shalih bin Abdul ‘Aziz Alusy Syaikh hafizhahullahu ta’ala mengatakan dalam penjelasannya tentang bab yang sangat berfaedah ini, “Sabar tergolong perkara yang menempati kedudukan agung (di dalam agama). Ia termasuk salah satu bagian ibadah yang sangat mulia. Ia menempati relung-relung hati, gerak-gerik lisan dan tindakan anggota badan. Sedangkan hakikat penghambaan yang sejati tidak akan terealisasi tanpa kesabaran.
Hal ini dikarenakan ibadah merupakan perintah syari’at (untuk mengerjakan sesuatu), atau berupa larangan syari’at (untuk tidak mengerjakan sesuatu), atau bisa juga berupa ujian dalam bentuk musibah yang ditimpakan Allah kepada seorang hamba supaya dia mau bersabar ketika menghadapinya.
Hakikat penghambaan adalah tunduk melaksanakan perintah syari’at serta menjauhi larangan syari’at dan bersabar menghadapi musibah-musibah. Musibah yang dijadikan sebagai batu ujian oleh Allah jalla wa ‘ala untuk menempa hamba-hamba-Nya. Dengan demikian ujian itu bisa melalui sarana ajaran agama dan melalui sarana keputusan takdir.
Adapun ujian dengan dibebani ajaran-ajaran agama adalah sebagaimana tercermin dalam firman Allah jalla wa ‘ala kepada Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam sebuah hadits qudsi riwayat Muslim dari ‘Iyaadh bin Hamaar. Dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda “Allah ta’ala berfirman: ‘Sesungguhnya Aku mengutusmu dalam rangka menguji dirimu. Dan Aku menguji (manusia) dengan dirimu’.”
Maka hakikat pengutusan Nabi ‘alaihish shalaatu was salaam adalah menjadi ujian. Sedangkan adanya ujian jelas membutuhkan sikap sabar dalam menghadapinya. Ujian yang ada dengan diutusnya beliau sebagai rasul ialah dengan bentuk perintah dan larangan.
Untuk melaksanakan berbagai kewajiban tentu saja dibutuhkan bekal kesabaran. Untuk meninggalkan berbagai larangan dibutuhkan bekal kesabaran. Begitu pula saat menghadapi keputusan takdir kauni (yang menyakitkan) tentu juga diperlukan bekal kesabaran. Oleh sebab itulah sebagian ulama mengatakan, “Sesungguhnya sabar terbagi tiga; sabar dalam berbuat taat, sabar dalam menahan diri dari maksiat dan sabar tatkala menerima takdir Allah yang terasa menyakitkan.”
Karena amat sedikitnya dijumpai orang yang sanggup bersabar tatkala tertimpa musibah maka Syaikh pun membuat sebuah bab tersendiri, semoga Allah merahmati beliau. Hal itu beliau lakukan dalam rangka menjelaskan bahwasanya sabar termasuk bagian dari kesempurnaan tauhid. Sabar termasuk kewajiban yang harus ditunaikan oleh hamba, sehingga ia pun bersabar menanggung ketentuan takdir Allah.
Ungkapan rasa marah dan tak mau sabar itulah yang banyak muncul dalam diri orang-orang tatkala mereka mendapatkan ujian berupa ditimpakannya musibah. Dengan alasan itulah beliau membuat bab ini, untuk menerangkan bahwa sabar adalah hal yang wajib dilakukan tatkala tertimpa takdir yang terasa menyakitkan. Dengan hal itu beliau juga ingin memberikan penegasan bahwa bersabar dalam rangka menjalankan ketaatan dan meninggalkan kemaksiatan hukumnya juga wajib.
Secara bahasa sabar artinya tertahan. Orang Arab mengatakan, “Qutila fulan shabran” (artinya si polan dibunuh dalam keadaan “shabr”) yaitu tatkala dia berada dalam tahanan atau sedang diikat lalu dibunuh, tanpa ada perlawanan atau peperangan. Dan demikianlah inti makna kesabaran yang dipakai dalam pengertian syar’i.
Ia disebut sebagai sabar karena di dalamnya terkandung penahanan lisan untuk tidak berkeluh kesah, menahan hati untuk tidak merasa marah dan menahan anggota badan untuk tidak mengekspresikan kemarahan dalam bentuk menampar-nampar pipi, merobek-robek kain dan semacamnya. Maka menurut istilah syari’at sabar artinya: Menahan lisan dari mengeluh, menahan hati dari marah dan menahan anggota badan dari menampakkan kemarahan dengan cara merobek-robek sesuatu dan tindakan lain semacamnya.
Imam Ahmad rahimahullah berkata, “Di dalam al-Qur’an kata sabar disebutkan dalam 90 tempat lebih. Sabar adalah bagian iman, sebagaimana kedudukan kepala bagi jasad. Sebab orang yang tidak punya kesabaran dalam menjalankan ketaatan, tidak punya kesabaran untuk menjauhi maksiat serta tidak sabar tatkala tertimpa takdir yang menyakitkan maka dia kehilangan banyak sekali bagian keimanan”
Perkataan beliau “Bab Minal imaan, ash shabru ‘ala aqdaarillah” artinya: salah satu ciri karakteristik iman kepada Allah adalah bersabar tatkala menghadapi takdir-takdir Allah. Keimanan itu mempunyai cabang-cabang. Sebagaimana kekufuran juga bercabang-cabang.
Maka dengan perkataan “Minal imaan ash shabru” beliau ingin memberikan penegasan bahwa sabar termasuk salah satu cabang keimanan. Beliau juga memberikan penegasan melalui sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Muslim yang menunjukkan bahwa niyaahah (meratapi mayit) itu juga termasuk salah satu cabang kekufuran. Sehingga setiap cabang kekafiran itu harus dihadapi dengan cabang keimanan. Meratapi mayit adalah sebuah cabang kekafiran maka dia harus dihadapi dengan sebuah cabang keimanan yaitu bersabar terhadap takdir Allah yang terasa menyakitkan” (At Tamhiid, hal.389-391)
-bersambung insya Allah-
***
Penulis: Abu Mushlih Ari Wahyudi

Jumat, 11 Mei 2012

Nikmat Yang Tak Terhitung


Pernah aku mencoba menghitung apa yang aku dapat dalam hidup ini dari Allah Yang Maha Kuasa. Aku mulai menghitung dari setiap keberhasilan yang kucapai. Aku masih dapat menghitungnya. Kemudian aku mulai menghitung lagi dengan cara menghitung lepas aku dari penderitaan, bahaya dan sesuatu yang tidak aku suka. Aku masih dapat menghitungnya walaupun jumlahlah kurasa sudah banyak sekali. Tetapi tiba-tiba aku teringat semua nikmat-nikmat kecil yang telah diberikan Allah kepadaku. Ternyata jika aku berpikir lagi secara mendalam. Aku menemukan jutaan nikmat yang telah diberikan-Nya kepadaku bukan jutaan bahkan tak terhitung.

Setiap hela nafas kita adalah karena rahmat-Nya. Rahmat-Nya ini adalah sebuah nikmat bagi kita. Bayangkan berapa kali kita menghela nafas dalam satu menitnya? Menurut sebuah penelitian bahwa kita bernafas ± 16 kali dalam satu menitnya. Lalu dapatkah kita menghitung berapa kali kita menghela nafas dalam satu hari, dalam satu bulan, dan seumur hidup kita. Contoh lainnya adalah penciptaan kita yang sesempurna ini adalah seluruhnya nikmat dari Allah. Bagaimana tubuh kita bisa mencerna makanan tanpa dengan kita suruh dan tanpa berhenti sedikitpun. Bagaimana jantung kita berdetak setiap harinya bahkan setiap detiknya. Belum lagi dengan nikmat mata, dengannya kita bisa melihat dan menyaksikan sebuah pemandangan yang indah dan pemandangan yang kita sukai. Mata adalah penuntun arahbyang paling baik dari pada indra yang lainnya. Kemudian ada nikmat akal. Dengan akal kita bisa menciptakan berbagai hal, mengatasi masalah yang ada dalam kehidupan ini. Dan banyak lagi dari setiap indra kita yang merupakan nikmat dari-Nya. Jika kita merincinya satu persatu niscaya kita tidak akan dapat menghitungnya.

Sebagaimana yang telah difirmankan oleh Allah dalam surat An Nahl ayat 18 yang artinya sebagai berikut:
"Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang".
Ayat di atas menjelaskan dengan jelas bahwa kita tidak akan bisa menghitung nikmat yang kita dapat dari Allah SWT. Kita memang tidak dapat menghitung nikmat yang kita dapat oleh karena itu yang kita bisa lakukan adalah mensyukurinya. Bahkan jika kita bersyukur atas segala nikmat yang kita dapat maka nikmat itu akan ditambahkan unutk kita. Hal itu termaktub dalam kitab suci Alquran surah Ibrahim ayat 7 yang artinya sebagai berikut :
"Dan (ingatlah) tatkala Tuhanmu memaklumkan; 'Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azabku sangat pedih".